Kenny menatap Tari dengan penasaran, menunggu jawaban atas pernyataan cintanya. Tari sendiri terlihat gelagapan, bingung harus menjawab apa.
Elsa yang di sebelah Tari juga hanya bisa bengong di tempat, kok situasinya jadi ruwet begini sih dan sejak kapan Kenny suka sama sohibnya?
“Gimana, Tar? Be my girlfriend?” tanya Kenny sekali lagi.
“Girlfriend? Ah itu, anu…” gumam Tari sambil garuk-garuk rambut, kalau tahu hari ini ada yang bakal nembak dia, dia pasti bakal keramas dulu kemarin.
Elsa segera saja menyodok lengan Tari dengan sikutnya. “Jawab cepetan!” bisiknya.
“Oke, oke,” jawab Tari spontan.
Kenny langsung tersenyum, senang dengan jawaban Tari, “Terus coklat buat gua mana?”
“Co,co,coklat?” Tari terbata-bata bingung karena dia tidak mempersiapkan apa-apa, semua ini gara-gara makhluk sial bernama Yogi! Umpatnya dalam hati.
“Valentine day kan biasa kasih coklat.”
“Oooo…” Tari melongo lebar, lengkap dengan ekspresi super bingung, untung saja Elsa segera menyadarkannya dengan menyikutnya lagi.
“Oh coklat! Nanti gua beliin di kantin,” tukas Tari akhirnya.
Elsa segera saja menepuk jidatnya, Tari ini bener-bener deh. Namun Kenny kembali tersenyum dan berkata, “Bener ya? Nanti kita makan siang bareng ok?”
Tari hanya mengangguk-ngangguk sambil nyengir maksa. Setelah Kenny berlalu, Elsa segera menarik Tari dan mengintrogasinya. “Lo suka Kenny? Sejak kapan?”
Tari yang masih bengong nggak jelas akhirnya menjawab, “Gua nggak suka sama dia, tadi itu spontan supaya makhluk itu nggak deketin gua.”
“Ya ampun lo tuh ya, kaya nggak ada cara lain aja, sekarang lo tuh jadi pacar Kenny! Elo sadar nggak sih?”
“Oh iya ya? Sekarang gua pacarnya dia?! Ya ampuun! Bagaimana ini??” Tari menjerit panik.
“Bener-bener deh loo, makanya mikir duluuu, jangan asal cuap aja!” tukas Elsa sambil mencubit lengan sohibnya.
“Aduuh sakiit!” jerit Tari.
“Sekarang lo harus bilang yang jujur sama Kenny, jangan pelanga-pelongo aja kaya tadi.”
“Nggak mau aah! Takut tau! Lo nggak liat Kenny badannya gede gitu, kalau dia marah terus gua ditonjok gimana??”
“Lebai ah lo, Kenny tinggi doang kali. Lagian elo yang kependekan bukannya dia yang gede.”
“Sial lo, udah ah, gua males ngebahas ini lagi. Pacaran ya pacaran lah, mau gimana lagi,” tukas Tari cuek.
Di jam istirahat, Kenny menepati ucapannya tadi pagi dan mengajak Tari makan bareng di kantin.
“Lo sejak kapan suka sama gua, Tar?” tanya Kenny saat mereka sudah duduk berhadap-hadapan.

Komentar Terakhir